Buat aku, produktif itu bukan soal multitasking atau harus kelihatan super sibuk setiap saat. It’s not always about chasing checklists or ticking off goals like crazy. Kadang, produktif itu sesimpel hadir penuh di momen kecil yang nggak dilihat siapa-siapa, tapi ternyata berasa banget dampaknya buat diri sendiri.
Sejak jadi freelancer dan lebih banyak waktu stay di rumah, definisi “produktif” pelan-pelan shifting. Aku mulai nanya ke diri sendiri, "Apa hari ini aku lebih tenang? Lebih terkoneksi sama diri sendiri? Sedikit lebih dekat sama mimpi-mimpiku?" Kalau iya, berarti hari itu produktif buatku. Sesimpel itu.
Writing: From Escape to Home
Dulu, nulis itu pelarian. When the outside world felt too much and my mind was too noisy, writing gave me space to breathe. Tapi lama-lama, aku sadar: nulis bukan cuma tempat kabur, tapi rumah. Tempat aku pulang, ngobrol sama diri sendiri, dan kadang nemu jawaban-jawaban kecil yang ternyata penting banget.
Aku mulai dari blog, nulis tentang film, kehidupan, hal receh yang ternyata deep juga. Dari situ aku belajar: tulisan itu kayak kaca. Kadang bikin kita ketawa, kadang bikin kita nangis, tapi selalu bikin kita lebih jujur.
Movies Are Not Laziness, They’re My Mind Gym
Sounds cheesy, but movies are literally one of my biggest inspirations. Nonton film bukan karena lagi mager, tapi kayak workout buat otak. Dari Pride and Prejudice, misalnya, aku bisa bahas soal sisterhood, ego, sampai love that grows silently.
Kadang series juga jadi recharge-ku. Insight yang aku dapet dari sana sering banget nyangkut di tulisan. So yes, watching movies is a part of my productivity, asal tahu cara ngambil benangnya.
Tiny Rituals, Big Heart
![]() |
Iced Coffee Latte (Source: https://id.pinterest.com/pin/568438784235627322/) |
Setiap pagi aku bikin americano atau coffee latte favoritku. Kadang sambil journaling, kadang cuma duduk sambil dengerin lagu instrumental dan liat langit pagi. It looks simple, but those small rituals help me start the day mindfully.
Buatku, feeling alive itu bagian dari produktif. Bukan hanya survive hari ini, tapi benar-benar ngerasain harinya.
Healing Through Words
Saat hati lagi jatuh, kecewa sama orang, writing saved me. Aku nulis surat buat diri sendiri, tentang hal-hal yang nggak bisa aku omongin ke siapa-siapa. Rasanya kayak buang racun dari kepala dan hati.
Dari situ aku sadar, healing pun bisa jadi bentuk produktivitas. Kadang kita nggak butuh advice, cuma perlu ruang buat naruh beban. For me, that space is writing.
Finding a New Path
Salah satu momen berharga adalah kenal sama Mba Ani Berta. Lewat beliau, aku belajar banyak tentang dunia blogging dan konten digital. Beliau juga yang ngenalin aku ke komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur).
![]() |
Teman-teman Komunitas ISB (Dok. Pribadi) |
Dari situ semuanya kebuka. ISB jadi rumah kedua, penuh workshop, webinar, dan sharing session yang selalu bikin semangat belajar. Tapi yang paling aku syukuri, komunitas ini bikin aku ngerasa nggak sendirian. Banyak perempuan di sana yang juga lagi jalanin prosesnya. That support? Empowering banget.
Learning Doesn’t Have to Be Expensive
Aku suka banget ikut kelas yang dishare teman-teman tentang personal branding, creative writing, dan juga kelas self-growth. Dari situ aku tahu, belajar itu bisa dari mana aja. Nggak harus keluar rumah. Asal ada niat buat upgrade diri, pintunya selalu terbuka.
Buat aku, produktif itu bukan siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling jujur sama dirinya sendiri. Writing, watching movies, healing, journaling, connecting with community, semuanya adalah bagian dari caraku hadir sebagai diri sendiri.
I grow from home. As a woman, as a person, as a blogger. Tapi yang paling penting, as me. Yang terus belajar, terus nyari tahu, terus jadi teman buat dirinya sendiri.
Menurutku, itu bentuk produktivitas yang paling powerful.
Comments
Post a Comment